Sabtu, 10 September 2016

KONSELING POPULASI ANAK JALANAN


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Fenomena anak jalanan dan anak panti asuhan di Indonesia adalah hal yang harus ditanggapi secara serius karena mereka juga calon pemimpin masa depan kita. Anak jalanan adalah seseorang yang masih belum dewasa (secara fisik dan phsykis) yang menghabiskan sebagian besar waktunya di jalanan dengan melakukan kegiatan-kegiatan untuk mendapatkan uang guna mempertahankan hidupnya yang terkadang mendapat tekanan fisik atau mental dari lingkunganya. Umumnya mereka berasal dari keluarga yang ekonominya lemah. Selain Anak jalanan masalah juga kerap di alami anak yang tinggal di panti asuhan yang secara psikis mengalami tekanan karena kurangnya perhatian yang mereka dapat dari orang tuanya atau karena ditelantarkan.
Di berbagai sudut kota, sering terjadi, anak jalanan harus bertahan hidup dengan cara-cara yang secara sosial kurang atau bahkan tidak dapat diterima masyarakat umum, sekedar untuk menghilangkan rasa lapar dan keterpaksaan untuk membantu keluarganya. Sedangkan di panti banyak sekali anak panti asuhan yang mengalami tekanan psikologis dalam banyak hal karena di telantarkan orang tuanya.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana konseling populasi anak jalanan?
2.      Bagaimana konseling populasi anak panti asuhan?








1
 
 
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Konseling Populasi Anak Jalanan
1.      Definisi Anak Jalanan
Anak jalanan adalah seseorang yang masih belum dewasa (secara fisik dan phsykis) yang menghabiskan sebagian besar waktunya di jalanan dengan melakukan kegiatan-kegiatan untuk mendapatkan uang guna mempertahankan hidupnya yang terkadang mendapat tekanan fisik atau mental dari lingkunganya. Berdasarkan hasil penelitian, secara garis besar anak jalanan dibedakan dalam tiga kelompok (surbakti dkk. (eds.) 1997).
Pertama, children on the street, yakni anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi sebagai pekerja anak di jalan, namun masih mempunyai hubungan yang kuat dengan orang tua mereka.sebagian penghasilan mereka di jalan diberikan kepada orang tuanya.
Kedua, children of the street, yakni anak-anak yang  berpartisipasi penuh di jalanan, baik secara sosial maupun ekonomi. Beberapa di antara mereka masih mempunyai hubungan dengan orang tuanya, tetapi frekuensi pertemuan mereka tidak menentu.
Ketiga, children from families of the street, yakni anak-anak yang berasal dari keluarga yang hidup di jalanan.
   Pada dasarnya anak jalanan adalah anak yang tinggal dijlanan hidup dijalanan mencari uang dijalanan untuk kebutuhan mereka sehari-hari agar dapat melangsungkan kehidupan mereka dan tak jarang mereka mendapatkan perlakuan yang tidak sewajarnya kepada mereka misalnya mendapat kekersan fisik dari lingkungannya dalam hal ini kehidupan anak jalanan sangat memperihatinkan.




2
 
 
2.      Faktor-faktor yang mempengaruhi anak jalanan
Sesungguhnya ada banyak faktor yang menyebabkan anak-anak terjerumus dalam kehidupan di jalanan, seperti:
a.       Kesulitan keuangan keluarga atau tekanan kemiskinan
b.      Ketidakharmonisan rumah tangga orang tua
c.       Masalah khusus menyangkut hubungan anak dengan orang tua
d.      Ingin bebas
e.       Pengaruh teman
3.      Karakteristik anak jalanan      
a.       Cenderung tertutup.
b.      Nekad hidup dijalanan demi memenuhi kebutuhan hidup.
c.       Sukar mengendalikan diri.
d.      Jika dilihat dari psikisnya, mereka mempunyai mobilitas yang tinggi terutama untuk mempunyai rasa penuh curiga.
e.       Mereka sangat sensitive tidak berpikir panjang (berani mengambil resiko) dan mereka  merupakan orang yang mandiri.
f.       Suka berada dijalanan daripada disekolah, walaupun ada juga yang sekolah.
g.      Penampilannya umumnya tidak terlalu diperhatikan.
h.      Suka berada ditempat yang kumuh.
4.      Upaya Konseling Populasi menangani anak jalanan
Anak jalanan pada dasarnya adalah anak-anak marginal di perkotaan yang mengalami proses dehumanisasi (penghilangan harkat manusia). Mereka bukan saja harus mampu bertahan hidup dalam suasana kehidupan kota yang keras, tidak bersahabat dan tidak kondusif bagi proses tumbuh kembang anak. Tetapi, lebih dari itu mereka juga cenderung dikucilkan masyarakat, menjadi objek pemerasan berbagai pihak seperti sesama teman, preman atau oknum aparat, sasaran eksploitasi, korban pemerkosaan, dan segala bentuk penindasan lainnya. Untuk menangani permasalahan anak jalanan haru sdiakui bukanlah hal yang mudah. Selama ini, berbagai upaya sebenarnya telah dilakukan, baik oleh LSM, pemerintah, organisasi profesi, dan sosial maupun Orang per orang untuk membnatu anak jalanan keluar atau paling tidak sedikit mengurangi penderitaan mereka. Namun, karena semuanya dilakukan secara temporer, segmenter, dan terpisah, maka hasilnya pun kurang menjadi kurang maksimal.
Menurut Tata Sudrajat (1996), selama ini beberapa pendekatan yang biasa dilakukan oleh LSM dalam penanganan anak-anak jalanan adalah sebagai berikut:
a.       Street based, yakni model penanganan anak jalanan di tempat anak jalanan itu berasal atau tinggal, kemudian para street educator datang kepada mereka: berdialog, mendampingi mereka bekerja, memahami dan menerima situasinya, serta menempatkan diri sebagai teman.
b.      Centre based, yakni pendekatan dan penanganan anak jalanan di lembaga atau panti. Anak-anak yang masuk dalam program ini ditampung dan diberikan pelayanan di lembaga atau panti seperti pada malam hari diberikan makanan dan perlindungan, serta perlakuan yang hangat dan bersahabat dari pekerja sosial.
c.       Community based, yakni model penanganan yang melibatkan seluruh potensi masyarakat, terutama kelurga atau orang tua anak jalanan. Pendekatan ini bersifat preventif, yakni mencegah anak agar tidak masuk dan terjerumus dalam kehidupan di jalanan. Keluarga diberikan kegiatan penyuluhan tentang pengasuhan anak dan upaya untuk meningkatkan taraf hidup, sementara anak-anak mereka diberi kesempatan memperoleh pendidikan formal maupun informal, pengisian waktu luang, dan kegiatan lainnya yang bermanfaat. Pendekatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan keluarga dan masyarakat agar sanggup melindungi, mengasuh, dan memenuhi kebutuhan anak-anaknya secara mandiri.

B.     Konseling Populasi Anak Panti Asuhan
1.      Definisi Populasi Anak Panti Asuhan
Sejak lahir anak telah diperkenalkan dengan pranata, aturan, norma dan nilai-nilai budaya yang berlaku melalui pengasuhan yang diberikan oleh orang tua dalam keluarga. Dengan demikian agar anak dapat hidup dan bertingkah laku sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat dibutuhkan suatu proses sosialisasi.
Sosialisasi pertama kali terjadi dalam lingkungan keluarga melalui pengasuhan yang diberikan oleh orang tua, keluarga memiliki peran penting dalam membentuk kepribadian anak melalui interaksi dalam keluarga. Keadaan tersebut akan berbeda bagi anak-anak yang tidak memiliki keluarga secara utuh.
Disorganosasi keluarga seperti perceraian kedua orang tua, krisis ekonomi keluarga dan meninggalnya salah satu atau kedua orang tua menyebabkan terputusnya interaksi sosial antara orang tua dan anak. Akibatnya, anak menjadi kurang mendapat perhatian dan pendidikan terabaikan. Maka salah satu cara yang dilakukan agar anak tetap dalam pengasuhan adalah dengan menampung anak-anak tersebut ke dalam suatu wadah yaitu panti asuhan, guna membantu meningkatkan kesejahteraan anak dengan cara mendidik, merawat, membimbing, mengarahkan dan memberikan keterampilan-keterampilan seperti yang diberikan oleh orang tua dalam keluarga.
Panti asuhan merupakan suatu lembaga sosial yang bertanggung jawab memberi pelayanan pengganti dalam pemenuhan kebutuhan fisik, mental dan sosial pada anak asuh sehingga memperoleh kesempatan yang luas, tepat, dan memadai bagi perkembangan kepribadian anak asuh. Anak panti asuhan ialah anak yang menumpang di panti asuhan karna adanya disorganisasi yang terjadi pada keluarganya.

2.      Langkah-Langkah Konseling
Sebagai seorang konselor yang profesional kita memiliki peranan penting dalam hal ini, langkah-langkah yang dapat kita lakukan antara lain :
a.       Bangun hubungan yang mendalam dengan anak yang menjadi konseli kita, proses membangun hubungan memerlukan waktu yang cukup panjang dan memerlukan kesabaran dari konselor. Hal ini disebabkan karena anak-anak ini sedang terluka, hidup dalam fakta-fakta negatif yang dibangunnya selama ini,sehingga ia tidak mudah mempercayai orang lain, ketidakstabilan emosi, ada banyak kemarahan terhadap orang dewasa dan diri sendiri karena pengaruh agresi dalam diri, dan sebagainya. Oleh sebab itu, proses membangun hubungan (joining) seringkali dipandang sebagai faktor penentu keberhasilan sebuah konseling terhadap anak-anak terluka ini.
b.      Ketika hubungan sudah terbangun dengan baik, anak sedikit demi sedikit mulai membuka diri, bahkan mulai masuk ke wilayah diri yang lebih dalam. Sikap yang dibutuhkan adalah sikap empathy dan understanding, yang memberi keyakinan bahwa konselor ada di sana untuk mendampingi, memahami, dan mengasihi konseli.
c.       Konselor memberi affirmasi (penegasan) mengenai apa yang dia rasakan, perhatikan, dan pelajari dari semua info yang diterima sejak pertemuan pertama dan memberi penegasan bahwa apa yang konseli rasakan dan alami sangatlah berat dan ekspresi yang diungkapkan konseli adalah ekspresi yang mungkin akan dilakukan oleh orang lain yang mengalami hal yang sama.
d.      Konselor menolong konseli untuk memisahkan ketakutan dan perasaan kehilangannya, yaitu antara kehilangan yang konkrit dengan yang abstrak, dan antara kehilangan yang dibayangkan saja atau kehilangan yang mengancam.
e.       Konselor perlu memfasilitasi proses berduka yang benar dan sehat, karena hal ini akan menimbulkan efek terapeutik yang sangat kuat untuk memperoleh pemulihan.
f.       Menolong Konseli untuk mengubah Unhelpful thought menjadi helpful thought, yaitu bahwa keadaannya pada masa lalu bukanlah kesalahannya, tapi sesuatu yang tidak mampu dihindarinya.
g.      Dalam fase ini, konselor memberi direksi (Arahan) terhadap tindakan yang perlu dilakukan. Dalam fase ini, anak ditolong untuk menguasai skill yang baru mengenai caranya mengatasi ledakan emosi, kemarahan, problem solving dan sebagainya.
h.      Konselor perlu melakukan follow up terhadap apa yang sudah dicapai saat itu. Anak-anak di panti asuhan perlu masuk ke dalam terapi kelompok, untuk menolong mereka menemukan kebenaran indah dari hidup mereka; mereka sama-sama pernah terluka dan dilukai.
















BAB IIIPENUTUP
A.    Kesimpulan
Anak jalanan adalah seseorang yang masih belum dewasa (secara fisik dan phsykis) yang menghabiskan sebagian besar waktunya di jalanan dengan melakukan kegiatan-kegiatan untuk mendapatkan uang guna mempertahankan hidupnya yang terkadang mendapat tekanan fisik atau mental dari lingkunganya. Berdasarkan hasil penelitian, secara garis besar anak jalanan dibedakan dalam tiga kelompok (surbakti dkk. (eds.) 1997) yaitu children on the street, children of the street, children from families of the street.
Panti Asuhan adalah suatu lembaga usaha kesosialan yang mempunyai tanggung jawab untuk memberikan pelayanan kesosialan kepada anak terlantar dengan melaksanakan penyantunan dan pengentasan anak terlantar. memberikan pelayanan pengganti orang tua / wali anak dalam memenuhi kebutuhan fisik, mental dan sosial pada anak asuh sehingga memperoleh kesempatan yang luas tepat dan memadai bagi perkembangan kepribadiannya sesuai dengan yang diharapkan sebagai bagian generasi penerus cita-cita bangsa dan sebagai insan yang akan turut serta aktif di dalam bidang pembangunan nasional.
Dari penjelasan di atas dapat kita pahami bahwa melakukan konseling terhadap anak yang berada di panti asuhan bukanlah hal yang mudah dan cepat, akan tetapi harus melalui proses dan memerlukan waktu yang lama, sehingga sangat dibutuhkan kesebaran dan keterampilan konselor.








8
 
 
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Suyanto, Bagong. 2010. Masalah Anak Sosial. Jakarta: Kencana
Sunarto, Kamanto. 2004. Pengantar Sosiologi. (Ed. Revisi), Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
Rudy Tejalaksana, Konseling Bagi Anak-Anak Panti Asuhan, (online), tersedia : http://his-shelter-community.blogspot.com/2009/12/pelayanan-konseling-bagi-anak-anak.html

MAKALAH KOMUNIKASI KONSELING


BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Komunikasi sangat menunjang dalam proses konseling, karena tanpa komunikasi maka proses konseling tersebut tidk akan bisa berjalan dengan lancar. Konseling sebagai salah satu bantuan yang di berikan kepada konseli dengan meggunakan kata-kata sudah pasti erat sekali kaitannya dengan komunikasi.
Hubungan antar manusia mendasari interaksi dan komunikasi antara bidan dengan pasien dalam pelayanan kebidanan. Ciri hakiki “ Human Relations “ yaitu : proses rohaniah yang tertuju kepada “ kebahagiaan “ berdasarkan watak, sifat, perangai, kepribadian, sikap, tingkah laku, dll; aspek kejiwaan yang terdapat pada diri manusia. Proses rohaniah dengan perasaan bahagia ini berlangsung pada “ Komunikasi Antar Personal “. Karena sifatnya “ dialogis “, maka masing- masing tahu, sadar, dan merasakan efeknya.
Seorang komselor harus bisa berkomunikasi secara efektif dengan konseli, Karena melalui komunikasi yang efektif serta konseling yang berhasil, kelangsungan dan kesinambungan penggunaan jasa pelayanan BK yang efektif akan tercapai.
Konseling adalah suatu proses pembelajaran,pembinaan hubungan baik,pemberian bantuan, dan bentuk kerja sama yang dilakukan secara professional (sesuai dengan bidangnya) oleh konselor kepada klien untuk memecahkan masalah, mengatasi hambatan perkembangan, dan memenuhi kebutuhan klien.
B.     Rumusan Masalah
1.      Sejauh apa kita memahami komunikasi dalam konseling?






1
 
 
BAB II
PEMBAHASAN
A.    PENGERTIAN KOMUNIKASI KONSELING
Istilah komunikasi berasal dari bahasa latin “communicati”  yang berarti “sama” yang lebih lanjut diartikan “sama makna”.
Kalau dua orang terlibat komunikasi, misalnya dalam bentuk percakapan, maka komunikasi akan berlangsung selama adanya kesamaan makna mengenai apa yan dipercakapkan, kesamaan bahasa yang digunakan dalam perckapan tersebut belum tentu menimbulkan makna yang sama. dari uraian tersebut jelaslah  bahwa yng dimaksud komunikasi ialah apabila perbincangan atau percakapan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih mengandung satu kesamaan makna.
Sedangkan konseling ialah proses tatap muka atau pemberian bantuan oleh konselor terhadap konseli agar konseli bisa memahami masalahnya dan mengatasi masalahnya. Dalam konseling proses bantuan atau konseling dilakukan dengan menggunakan percakapan atau dalam kata lain komunikasi, sehingga komunikasi sangat erat sekali hubungannya dengan konseling.
Dari uraian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa komunikasi konseling ialah segala hal yang berkaitan dengan komunikasi yang berlangsung dan dilakukan dalam upaya melakukan prosess bimbingan dan konseling antara konselor dan klien.
2
 
Komunikasi sangat erat kaitannya dengan interaksi, walupun dalam pendalamannya mengandung arti yang brbeda, interaksiialah hubungan  antara seseorang dengan orang lain dalam situasi kerja dan dalam organisasi kekaryaan. Dipandang dari kepemimpinannya, bertanggung jawab dalam suatu kelompok merupakan interaksi orang- orang menuju situasi kerja yang memotivasi untuk bekerja sama secara produktif, sehingga dicapai kepuasan ekonomis, psikologis dan sosial ( Keith Davis “ Human Relation at Work “ ).
B.     KONSELING SEBAGAI SALAH SATU PENGALAMAN BARU
Konseling sebagai salah satu pengalaman baru ialah bahwa proses konseling merupakan hal yang dianggap baru oleh konseli dan merupakan suatu pengalaman baru yang berbeda dengan biasanya, sehingga dengan demikian maka akan bisa menimbulkan ketidakpahaman seorang koneli dalam memahami makna dan maksud dari konseling itu sendiri.
Sebagai salah satu pengalaman baru konseling merupakan hal yang perlu diahami dengan cermat sehingga memerlukan proses pemahaman yang baik, dalam hal ini komunikasi memegang peranan sangat penting karena dengan komunikasi yang baik maka pemahaman individu tentang kondeling akan baik pula.

C.    KNFLIK INTERNAL
Konflik intermal ialah gejolak yang terjadi dalam diri individu yang berasal dari dalam dirinya sendiri, adapun hal-hal yang bisa kita lakukan untuk mengatasi konflik internal ialah:
1.      Adanya kita mengenal konflik internal
Dengan adanya kita mengenal konflk internal maka kita akan memahami bahwa kita memiliki gejolak-gejolak di dalam hati kita tentang sesuatu hal.
2.      Menghadapi realita
Menghadapi realita ialah menghadapi kenyataan yang sedang terjadi, karena mau tidak mau dalam hidup ini manusia selalu dihadapkan dengan kenyataan yang kadang tidak bisa diterima, tetapi walauoun begitu hal tersebut tetap harus kita hadapi dan tidak bisa kita hindari atau kita tidak akan bisa lari dari kenyataan tersebut. Hal yang harus kita lakukan ialah kita harus menghadapi hal tersebut.
3.      Menggambarkan komunikasi
Menggambarka komunikasi ialah bagaimana seseorang individu menggambarkan komunikasi menurut pandangan nya dan sejauh mana ia mengenal dan memahami kamunikasi dan tau dengan komunikasi.
4.      Memulai suatu hunbunagn baru
Memulai hubungan baru merupakan perwujudan untuk menghilangkan keragu-raguan seorang individu dalam memulai suatu hubungan dengan seseorang dalam segala hal.
5.      Meningkatnya kebebasan psikologis
Meningkatnya kebebasan psikologis ialah sadarnya individu dengan tanggung jawabnya terhadap apa-apa saja tindakan  yang telah atau akan ia lakukan.
6.      Memperbaiki konsep-konsep yang keliru

Setiap individu hendaknya mengenal dan memahami konflik internal pada dirinya, mengenal konflik internal ialah bagaiamana individu memahami bahwa setiap masalh yang ia hadapi berasal dari konflik pribadi atau berasal dari dirinya sendiri. Adapun faktor-faktor yang menyebabkan konflik internal ialah:
1.      Penilaian negatif terhadap diri sendiri
2.      Keharusan Psikoligis, yang terdiri dari:
a.       Personal ialah desakan dari suatu individu, contoh: saya harus disukai
b.      Interpersonal ialah desakan dri oang lain, contoh: saya harus punya teman terkenal
c.       Sosial ialah pengaruh sosial, contoh: saya harus berteman dengan orang yang populer.
d.      Deskriminatif ialah bersebrangan dengan hati nurani, Contoh: saya ingin mati.
3.      Konflik kebutuhan






D.    PEMERLUAN KEBUTUHAN
Pemerluan kebutuhan ialah kebutuhan-kebutuhan dasar yang menjadi bawaan dan naluriah manusia yang harus dipenuhi dan apabila tidak dipenuhi maka seorang individu akan mengalami ganggun Psikologis dan akan mengganggu kehidupannya. Adapun pemerluan kebutuhan tersebut diantaranya:
1.      Memberi dan menerima kasih sayang
Memberi dan menerima kasih sayang merupakan kebutuha nalurian manusia, setiap manusia yang normal pasti memiliki rasa ingin di sayang dan merasakan ingin menyayangi seseorang/ orang lain.
2.      Kebebasan
Kebebasan ialah rasa ingi bebas dan tidak mau dikekang pada seseorang individu, setiap individu pasti merasakan rasa ingin bebas dalam hidupnya.
3.      Memiliki kesenangan
Setiap orang selalu memiliki hasrat untuk memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya, walaupun kebahagiaan tidak selalu datang dan manusia pasti merasakan sedih, tetapi manusia selalu ingin merasakan kesenangan dalam hidupnya.
4.      Menerima stimulus dan tantangan
Setiap orang pasti mengingnkan tantangan untuk enghilangkan rasa jenuh dalam hidupnya.
5.      Perasaan mencapai Prestasi
Manusia memiliki hasrat untuk mencapai prestasi dan selalu tidak pernah puas dengan prestasinya, hal tersebut merupakan naluriah dan kebutuhan manusia.
6.      Memiliki harapan
Apabila manusia hidup tanpa harapan maka hidup manusia tidak akan bersemangat dan bisa saja tidak berlangsung lama.


7.      Memiliki Ketenagan
Ketenangan merupakan hal yang selalu di cari manusia dlam hidupnya, hal ini juga yang mendasari manusia untuk lebih dekat dengan tuhannya, yakni mencari ketenangan hidup.
8.      Menuju Tujuan Hidup yang Nyata
Manusi pastinya igin memiliki tujuan hidup yang nyata dan ingin menggapainya.

E.     FAKTOR PENGHAMBAT KOMUNIKASI
Komunikasi seseorang bisa terhambat karena hal-hal sebagai berikut:
1.      Kurangnya percaya diri atau takit, hal ini bisa disebabkan karena hal-hal berikut:
a.       Generalisasi dari satu aspek ke aspek yang lain
b.      Sulit menggambil keputusan
c.       Kurang mampu menghadapi kendala
d.      Enggan menghadapi resiko
e.       Berprilaku kurang wajar
2.      Kurang mampu mengendalikan diri, hal ini disebabkan karena hal-hal berikut:
a.       Tidak disiplin
b.      Kurang mampu menata diri/tidk sayang dengan dirinya
c.       Berprilaku tidak rasional
d.      Mudah dikendalikan pihak lain

F.     KOMPETENSI INTRAPERSONAL
1.      Kepekaan terhadap diri sendiri dan orang lain
Yakni bagaimana kepekaan seseorang terhadap dirinya sendiri dan bagaimana kepekaannya terhadap orang lain.
2.      Ketegasan diri dan Konsisten
Yakni bagaimana keteguhan seseorang terhadap konsepnya dan konsistensinya terhdap sesuatu.
3.      Menjadi nyaman terhadap diri sendiri dan orang lain
4.      Harapan yang realistik
Ialah harapan yang nyata dari seorang individu dan harapn yang mungkn untuk di capainya.
5.      Perlindungan dari situasi intrapersonal yang positif

G.    KOMUNIKASI EFEKTIF
Komunikasi efektif ialah dimana komunikator daan komunikan sama-sama memiliki pengertian dan pemahaman yang sama terhadap suatu pesan yang di komunikasikan.
Adapun syarat-syarat terjalinnya komunikasi yang efektif ialah:
1.      Menciptakan suasana yang menguntungkan
2.      Menggunakan Bahasa yang mudah dimengrti
3.      Pesan yang disampaikan dapat mengunggah perhatian
4.      pesan yang disampaikan dapat mengungkap kepentingan dipihak komunikan/orang yan menerima pesan dan dapat menguntungkan
5.      Pesan dapat menimbulkan rewort dipihak penerima.

H.    KOMPONEN KOMUNIKASI
1.      Pengirim pesan (komunikan)
2.      Bentuk pesan (isi pesan)
3.      Bagaimana pesan disampaikan
4.      Orang yang menerima pessan (komunikator)
5.      Respons

I.       KEMAMPUAN KOMUNIKASI YANG EFEKTIF
1.      Berikan kesan bahwa anda antusias, senang, suka berbicara dengan mereka
2.      Ajukan pertanyaan tetang minat mereka
3.      Beradaptasi dengan bahasa tubuh dn perasaan mereka
4.      Tunjukan rasa persetujuan
5.      Dengarkan dengan penuh perhatian
6.      Beri kontak mata yang lama
7.      Ungkapkan diri anda sebaik munkin
8.      Berikan mereka senyuman terbaik anda
9.      Berikan motivasi
10.  Sebut nama mereka dengan cara yang menyenangkan
11.  Tawarkan merek menjaani hubungan lebih maju
J.      EMOSI DALAM KONSELING
Emosi dalam konseling ialah bentuk-bentuk emosi yang muncul dalam proses konseling, adapun emosi-emosi yang muncul dalam proses konseling adalah sebgai berikut:
1.      Sakit hati, bisa terjadi karena:
a.       Interaksi melalui ungkapan-ungkapan yang menyakitkan
b.      Sesuatu yang lahir seperti rasa takut karena teman menyebabkan rasa takutnya berteman denga laki-laki.
c.       Keinginan individu untuk merasakan sakit
2.      Takut, diantaranya:
a.       Takut terhadap kedekatan
b.      Takut terhadap penolakan, berpura-pura tidak berminat, selalu merendahkan diri.
c.       Takut terhadap kegagalan  dan menolak resiko
d.      Takut terhadap kebahagiaan
3.      Marah, diantaranya:
a.       Depresi
b.      Salah tempat/orang
c.       Canggung/kikuk
d.      Manipulasi fisik
4.      Rasa bersalah Perasaan tidak nyaman/ malu karena melakukan kesalahan:
a.       Rasa bersalah psikologis
b.      Merasa bersalah secara sosial
c.       ersalah secara relgi
K.    MOTIVASI DALAM KONSEING
Pentingnya motivasi konseling ialah sebagai berkut:
1.      Karena klien harus didorong untuk bekerja sama dalam konseling
2.      Klien harus didorong berprilaku sesuai tuntutan
3.      Motivasi merupakan hal terpenting dalam memelihara dan mengembangkan dalam suasana konseling
Keterampilan komunikasi konseling diantaranya:
1.      Attending
2.      Empati
3.      Merangkumkan
4.      Bertanya
5.      Kejujuran
6.      Konfrontasi












BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPILAN
Istilah komunikasi berasal dari bahasa latin “communicati”  yang berarti “sama” yang lebih lanjut diartikan “sama makna”.
Sedangkan konseling ialah proses tatap muka atau pemberian bantuan oleh konselor terhadap konseli agar konseli bisa memahami masalahnya dan mengatasi masalahnya. Dalam konseling proses bantuan atau konseling dilakukan dengan menggunakan percakapan atau dalam kata lain komunikasi, sehingga komunikasi sangat erat sekali hubungannya dengan konseling.
Komunikasi konseling ialah segala hal yang berkaitan dengan komunikasi yang berlangsung dan dilakukan dalam upaya melakukan prosess bimbingan dan konseling antara konselor dan klien.
Komunikasi sangat erat kaitannya dengan interaksi, walupun dalam pendalamannya mengandung arti yang brbeda, interaksiialah hubungan  antara seseorang dengan orang lain dalam situasi kerja dan dalam organisasi kekaryaan.




10
 
 





DAFTAR PUSTAKA
Effendy Uchjana Onong. 2009. Komunikasi Teori Dan Praktek. Remaja Rosdakarya: Bandung