PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Komunikasi
antarpribadi bisa menjadi sebuah komunikasi yang efektif atau sangat tidak
efektif. Durasi proses komunikasi tidak selamanya menjadi tolak ukur
efektifitas komunikasi. Komunikasi efektif artiya jika komunikan, mengerti,
mempersepsi dan melaksanakan reaksi (action) atau tugas-tugas sesuai dengan
pesan yang diberikan oleh komunikatornya dan ada feed back-nya.
Komunikasi antarpribadi dikatakan sukses
apabila membuahkan hasil. Oleh sebab itu penting bagi kita untuk mengetahui
aspek-aspek komunikasi antar pribadi yang efektif.
B.
Rumusan
masalah
Apa-apa
saja aspek-aspek yang mempengaruhi komunikasi antar pribadi?
|
ASPEK-ASPEK KOMUNIKASI
ANTAR PRIBADI YANG EFEKTIF
Komunikasi antarpribadi bisa
menjadi sebuah komunikasi yang efektif atau sangat tidak efektif. Durasi proses
komunikasi tidak selamanya menjadi tolak ukur efektifitas komunikasi.
Komunikasi efektif artiya jika komunikan, mengerti, mempersepsi dan
melaksanakan reaksi (action) atau tugas-tugas sesuai dengan pesan yang
diberikan oleh komunikatornya dan ada feed back-nya.
Komunikasi
antarpribadi dikatakan sukses apabila membuahkan hasil. Dewasa ini komunikasi
antarpribadi bisa dilakukan dengan tanpa harus bertatap muka, karena seiring
perkembangan teknologi. Manusia bisa berinteraksi melalui media sosial network,
chatting atau skype. Namun apabila dilihat dari mutu dan efektifitasnya, maka
tatap muka merupakan komunikasi antarpribadi yang utama dan dikatakan lebih
sukses
Komunikasi tatap muka yang
dilakukan berulang-ulang dan bergantian dapat meningkatkan mutu komunikasi
antarpribadi, dengan mampu menjalin suatu kontak dikarenakan ada rangkaian
pertukaran pesan antara dua orang secara langsung. Komunikasi tatap muka mempunyai
keistimewaan dimana efek dan umpan balik, aksi dan reaksi langsung terlihat
karena jarak fisik partisipan yang dekat. Aksi maupun reaksi verbal dan
nonverbal, semuanya terlihat dengan jelas secara langsung. Oleh karena itu
tatap muka yang dilakukan terus-menerus kemudia dapat mengembangkan kumunikasi
antar pribadi yang memuaskan dua pihak dan menjadi komunikasi yang
efektif.
|
Sedangkan menurut Devito, karakteristik
efektifitas komunikasi antarpribadi dilihat dari tiga sudut pandang, yaitu
sudut pandang humanistic, pragmatis serta sudut pandang pergaulan sosial dan
sudut pandang kesetaraan.
Adapun komunikasi antar pribadi
yang efektif dapat dilihat dari aspek-aspek berikut, yakni sebagai berikut:
A.
Kesetaraan
Kesetaraan
merupakan perasaan sama dengan orang lain, sebagai manusia tidak tinggi atau
rendah, walaupun terdapat perbedaan dalam kemampuan tertentu, latar belakang
keluarga atau sikap orang lain terhadapnya. Rahmat (2007: 135) mengemukakan
bahwa persamaan atau kesetaraan adalah sikap memperlakukan orang lain secara
horizontal dan demokratis, tidak menujukkan diri sendiri lebih tinggi atau
lebih dari orang lain karena status kekuasaan, kemampuan intelektual. Dalam
persamaan tidak mempertegas perbedaan artinya tidak menggurui, tetapi
berbincang pada tingkat yang sama, yaitu mengkomunikasikan penghargaan dan rasa
hormat pada perbedaan pendapat dan keyakinan.
Dalam
setiap situasi, barangkali terjadi ketidaksetaraan. Salah seorang mungkin lebih
pandai. Lebih kaya, lebih tampan atau cantik, atau lebih atletis daripada yang
lain. Tidak pernah ada dua orang yang benar-benar setara dalam segala hal.
Terlepas dari ketidaksetaraan ini, komunikasi interpersonal akan lebih efektif
bila suasananya setara. Artinya,, harus ada pengakuan secara diam-diam bahwa kedua
pihak sama-sama bernilai dan berharga, dan bahwa masing-masing pihak mempunyai
sesuatu yang penting untuk disumbangkan. Dalam suatu hubungan interpersonal
yang ditandai oleh kesetaraan,
ketidak-sependapatan
dan konflik lebih dillihat sebagai upaya untuk memahami perbedaan yang pasti
ada daripada sebagai kesempatan untuk menjatuhkan pihak lain.kesetaraan tidak
mengharuskan kita menerima dan menyetujui begitu saja semua perilaku verbal dan
nonverbal pihak lain. Kesetaraan berarti kita menerima pihak lain, atau menurut
istilah Carl rogers, kesetaraan meminta kita untuk memberikan ”penghargaan
positif tak bersyarat” kepada orang lain.
B.
Kepercayaan
Diri
Kepercayaan
diri atau percaya diri ialah sejauh mana seorang individu meyakini dan
mempercayai kemampuan dirinya dalam berkomunikasi, dengan kata lain berani
dengan kemampuan, keadaan dan potensi yang ia miliki ketika berkomunikasi.
Ketakutan untuk melakukan komunikasi dikenal sebagai communication
apprehension. Orang yang aprehensif dalam komunikasi disebabkan oleh kurangnya
rasa percaya diri. Untuk menumbuhkan percaya diri, menumbuhkan konsep diri yang
sehat menjadi perlu.
C.
Kebersatuan
Kebersatuan
secara sederhana dapat dikatakan adanya kebersatuan antara komunikator dan
komunikan. Dalam hal ini antara komunikator dan komunikan memiliki kedekatan
dan kebersatuan baik itu dalam presepsi, hubungan sosial dan komunikasinya,
dengan kata lain ialah bahwa antara komunikator dan komunikan tidak berbeda
pandangan atau bertentangan. Kebersatuan menjadi patokan keefektifan komunikasi
karena dengan adanya kebersatuan maka hubungan antara komunikator dan komunikan
menjadi dekat dan dengan demikian itu akan membuat komunikasi menjadi efektif.
Kebersatuan dapat diartikan bahwa antara komunikator dan komunikan tidak
dibatasi oleh tembok pembatas ketika sedang berkomunikasi.
D.
Manajemen
Interaksi
Manajemen
Interaksi (Interaction Mangement), Menejemen interaksi ialah bagaimana
seseorang mengatur hubungan interaksinya dengan orang lain. Komunikator yang
efektif mengendalikan interaksi untuk kepuasan kedua pihak. Dalam manajaemen
interaksi yang efektif, tidak seorangpun merasa diabaikan atau merasa menjadi
tokoh penting. Masing masing pihak berkontribusi dalam keseluruhan komunikasi.
E.
Daya
Ekspresi (Pengungkapan).
Mengacu
pada keterampilan mengkomunikasikan keterlibatan tulus dalam interaksi pribadi,
kita berperan serta dalam permainan dan tidak hanya sekedar menjadi penonton.
Dalam situasi konflik daya ekspresi mencakup ikut berkelahi secara aktif
menyatakan ketidaksetujuan, bukan berkelahi secara pasif, menarik diri atau
melemparkan tanggungjawab kepada orang lain. Gerak-gerik tubuh mampu
mengkomunikasikan keterlibatan. Kita mendemonstrasikan daya ekspresi dengan
menggunakan variasi dalam kecepatan, nada, volume dan ritme suara untuk
mengisyaratkan keterlibatan dan perhatian dan'dengan membiarkan otot-otot wajah
mencerminkan dan menggemakan keterlibatan ini. Menggunakan terlalu sedikit
gerak-gerik mengisyaratkan ketiadaan minat. Terlalu banyak gerak-gerik dapat
mengkomunikasikan ketidaknyamanan, kecanggungan dan kegugupan.
PENUTUP
Adapun komunikasi antar pribadi
yang efektif dapat dilihat dari aspek-aspek berikut, yakni sebagai berikut:
F. Kesetaraan
G. Kepercayaan
Diri
H. Kebersatuan
I. Manajemen
Interaksi
J. Daya
Ekspresi (Pengungkapan).
|
DAFTAR
PUSTAKA
Rakhmat
Jalaludin. 2002. Psikologi Komunikasi.
PT Remaja Rosdakarya
Effendy
Uehjana Onong. 2009. Komunikasi Teori dan
Praktek. PT Remaja Rosdakarya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar