Sabtu, 10 September 2016

aspek-aspek keefektifan komunikasi antar pribadi


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Komunikasi antarpribadi bisa menjadi sebuah komunikasi yang efektif atau sangat tidak efektif. Durasi proses komunikasi tidak selamanya menjadi tolak ukur efektifitas komunikasi. Komunikasi efektif artiya jika komunikan, mengerti, mempersepsi dan melaksanakan reaksi (action) atau tugas-tugas sesuai dengan pesan yang diberikan oleh komunikatornya dan ada feed back-nya.
     Komunikasi antarpribadi dikatakan sukses apabila membuahkan hasil. Oleh sebab itu penting bagi kita untuk mengetahui aspek-aspek komunikasi antar pribadi yang efektif.
B.     Rumusan masalah
Apa-apa saja aspek-aspek yang mempengaruhi komunikasi antar pribadi?















1
 
BAB  II
ASPEK-ASPEK KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI YANG EFEKTIF

Komunikasi antarpribadi bisa menjadi sebuah komunikasi yang efektif atau sangat tidak efektif. Durasi proses komunikasi tidak selamanya menjadi tolak ukur efektifitas komunikasi. Komunikasi efektif artiya jika komunikan, mengerti, mempersepsi dan melaksanakan reaksi (action) atau tugas-tugas sesuai dengan pesan yang diberikan oleh komunikatornya dan ada feed back-nya.
            Komunikasi antarpribadi dikatakan sukses apabila membuahkan hasil. Dewasa ini komunikasi antarpribadi bisa dilakukan dengan tanpa harus bertatap muka, karena seiring perkembangan teknologi. Manusia bisa berinteraksi melalui media sosial network, chatting atau skype. Namun apabila dilihat dari mutu dan efektifitasnya, maka tatap muka merupakan komunikasi antarpribadi yang utama dan dikatakan lebih sukses
Komunikasi tatap muka yang dilakukan berulang-ulang dan bergantian dapat meningkatkan mutu komunikasi antarpribadi, dengan mampu menjalin suatu kontak dikarenakan ada rangkaian pertukaran pesan antara dua orang secara langsung. Komunikasi tatap muka mempunyai keistimewaan dimana efek dan umpan balik, aksi dan reaksi langsung terlihat karena jarak fisik partisipan yang dekat. Aksi maupun reaksi verbal dan nonverbal, semuanya terlihat dengan jelas secara langsung. Oleh karena itu tatap muka yang dilakukan terus-menerus kemudia dapat mengembangkan kumunikasi antar pribadi yang memuaskan dua pihak dan menjadi komunikasi yang efektif. 
2
 
Sedangkan menurut Devito, karakteristik efektifitas komunikasi antarpribadi dilihat dari tiga sudut pandang, yaitu sudut pandang humanistic, pragmatis serta sudut pandang pergaulan sosial dan sudut pandang kesetaraan.
Adapun komunikasi antar pribadi yang efektif dapat dilihat dari aspek-aspek berikut, yakni sebagai berikut:
A.    Kesetaraan
Kesetaraan merupakan perasaan sama dengan orang lain, sebagai manusia tidak tinggi atau rendah, walaupun terdapat perbedaan dalam kemampuan tertentu, latar belakang keluarga atau sikap orang lain terhadapnya. Rahmat (2007: 135) mengemukakan bahwa persamaan atau kesetaraan adalah sikap memperlakukan orang lain secara horizontal dan demokratis, tidak menujukkan diri sendiri lebih tinggi atau lebih dari orang lain karena status kekuasaan, kemampuan intelektual. Dalam persamaan tidak mempertegas perbedaan artinya tidak menggurui, tetapi berbincang pada tingkat yang sama, yaitu mengkomunikasikan penghargaan dan rasa hormat pada perbedaan pendapat dan keyakinan.
Dalam setiap situasi, barangkali terjadi ketidaksetaraan. Salah seorang mungkin lebih pandai. Lebih kaya, lebih tampan atau cantik, atau lebih atletis daripada yang lain. Tidak pernah ada dua orang yang benar-benar setara dalam segala hal. Terlepas dari ketidaksetaraan ini, komunikasi interpersonal akan lebih efektif bila suasananya setara. Artinya,, harus ada pengakuan secara diam-diam bahwa kedua pihak sama-sama bernilai dan berharga, dan bahwa masing-masing pihak mempunyai sesuatu yang penting untuk disumbangkan. Dalam suatu hubungan interpersonal yang ditandai oleh kesetaraan,
ketidak-sependapatan dan konflik lebih dillihat sebagai upaya untuk memahami perbedaan yang pasti ada daripada sebagai kesempatan untuk menjatuhkan pihak lain.kesetaraan tidak mengharuskan kita menerima dan menyetujui begitu saja semua perilaku verbal dan nonverbal pihak lain. Kesetaraan berarti kita menerima pihak lain, atau menurut istilah Carl rogers, kesetaraan meminta kita untuk memberikan ”penghargaan positif tak bersyarat” kepada orang lain.
B.     Kepercayaan Diri
Kepercayaan diri atau percaya diri ialah sejauh mana seorang individu meyakini dan mempercayai kemampuan dirinya dalam berkomunikasi, dengan kata lain berani dengan kemampuan, keadaan dan potensi yang ia miliki ketika berkomunikasi. Ketakutan untuk melakukan komunikasi dikenal sebagai communication apprehension. Orang yang aprehensif dalam komunikasi disebabkan oleh kurangnya rasa percaya diri. Untuk menumbuhkan percaya diri, menumbuhkan konsep diri yang sehat menjadi perlu.
C.    Kebersatuan
Kebersatuan secara sederhana dapat dikatakan adanya kebersatuan antara komunikator dan komunikan. Dalam hal ini antara komunikator dan komunikan memiliki kedekatan dan kebersatuan baik itu dalam presepsi, hubungan sosial dan komunikasinya, dengan kata lain ialah bahwa antara komunikator dan komunikan tidak berbeda pandangan atau bertentangan. Kebersatuan menjadi patokan keefektifan komunikasi karena dengan adanya kebersatuan maka hubungan antara komunikator dan komunikan menjadi dekat dan dengan demikian itu akan membuat komunikasi menjadi efektif. Kebersatuan dapat diartikan bahwa antara komunikator dan komunikan tidak dibatasi oleh tembok pembatas ketika sedang berkomunikasi.
D.    Manajemen Interaksi
Manajemen Interaksi (Interaction Mangement), Menejemen interaksi ialah bagaimana seseorang mengatur hubungan interaksinya dengan orang lain. Komunikator yang efektif mengendalikan interaksi untuk kepuasan kedua pihak. Dalam manajaemen interaksi yang efektif, tidak seorangpun merasa diabaikan atau merasa menjadi tokoh penting. Masing masing pihak berkontribusi dalam keseluruhan komunikasi.
E.     Daya Ekspresi (Pengungkapan).
Mengacu pada keterampilan mengkomunikasikan keterlibatan tulus dalam interaksi pribadi, kita berperan serta dalam permainan dan tidak hanya sekedar menjadi penonton. Dalam situasi konflik daya ekspresi mencakup ikut berkelahi secara aktif menyatakan ketidaksetujuan, bukan berkelahi secara pasif, menarik diri atau melemparkan tanggungjawab kepada orang lain. Gerak-gerik tubuh mampu mengkomunikasikan keterlibatan. Kita mendemonstrasikan daya ekspresi dengan menggunakan variasi dalam kecepatan, nada, volume dan ritme suara untuk mengisyaratkan keterlibatan dan perhatian dan'dengan membiarkan otot-otot wajah mencerminkan dan menggemakan keterlibatan ini. Menggunakan terlalu sedikit gerak-gerik mengisyaratkan ketiadaan minat. Terlalu banyak gerak-gerik dapat mengkomunikasikan ketidaknyamanan, kecanggungan dan kegugupan.











BAB III
PENUTUP
Adapun komunikasi antar pribadi yang efektif dapat dilihat dari aspek-aspek berikut, yakni sebagai berikut:
F.      Kesetaraan
G.    Kepercayaan Diri
H.    Kebersatuan
I.       Manajemen Interaksi
J.       Daya Ekspresi (Pengungkapan).














6
 
DAFTAR PUSTAKA
Rakhmat Jalaludin. 2002. Psikologi Komunikasi. PT Remaja Rosdakarya
Effendy Uehjana Onong. 2009. Komunikasi Teori dan Praktek. PT Remaja Rosdakarya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar